Tuesday, August 5, 2014

Datuk Harimau

Berkenalan dengan dunia gaib, sungguh bukanlah harapanku. Konon lagi menjadi impian? Oh Tidak, terima kasih. Namun apa daya, ketika sebuah jembatan menuju 'lakon' ini terbuka tanpa kusadari. Disantet, dan upaya penyembuhan dari santet ini, akhirnya menjadi pintu penghubung masuknya aku ke dalam dunia yang satu ini. Dunia lain, yang sungguh lain dari dunia yang selama ini aku lakoni. Bagi Mantemans, yang belum pernah mengikuti kisah petualanganku, ada baiknya membaca artikel yang ini dulu deh, sebelum kita berkenalan dengan Datuk Harimau. 

Sore itu di rumah Mba Fatma

Sore itu, aku dan Dijah serta Siti, putrinya Dijah, baru saja masuk dan duduk di ruang tamunya Mba Fatma, salah satu sahabat Dijah. Tujuan kami ke situ adalah untuk meminta beberapa kuntum bunga kenanga dan melati, sebagai bagian dari tetumbuhan dan bebungaan yang dibutuhkan bagi pengobatanku nanti malam. Dan, ini adalah kunjunganku untuk pertama kalinya ke rumah temannya Dijah yang ini, yaitu si Mba Fatma. Suasana langsung ramai oleh kedatangan Dijah dan Siti, dan aku tentunya. Tapi eikeh kan pendatang baru! :) Namun anehnya, baru saja menghenyakkan bokongnya di sofa Mba Fatma, Dijah malah pamit padaku karena akan pergi ke ladang, mengambil rerumputan yang tumbuh di sana. Ladang? Adakah ladang di tengah kota seperti ini? Lalu ingatanku segera berkilau, cling kembali pada kebiasaan Dijah melepas diri dari raganya sendiri, alias tubuh Dijah di'isi' alias di'rasuki' oleh roh lainnya. Dan biasanya yang masuk adalah Icha, si bocah jin bijak nan menggemaskan itu. 

Benar saja, baru saja Dijah mencium tanganku, tubuhnya sedikit bergetar, lalu suara kanak-kanak khas Icha pun muncul. Tak hanya bersuara, tubuh besar Dijah pun langsung dibawa melompat oleh Icha yang gesit. Layaknya bocah 4 tahunan, Icha membawa tubuh Dijah berlari keluar, mendekati pohon kenanga, dan menjinjit-jinjit layaknya anak kecil, menjangkau bunga kenanga yang banyak bergelantungan di atas pohon itu. 

"Bunda... Bunda, ayo, bunganya alus dipetik oleh tangan Bunda cendili, bial afdol!" Teriaknya memanggilku, yang memang sudah menyusulnya. Entah kenapa, bocah jin ini paling patuh kalo mendengar kata-kataku, yang langsung bersikap santun saat kuminta dirinya untuk tidak melompat-lompat seperti itu. Bukannya ga boleh, tapi tubuh yang dia pakai itu lho, tubuh seorang ibu dengan berat diatas 70 kg! Kebayang kan?

Aku pun memetik beberapa kuntum kenanga dan melati, dengan aneka tanya di dalam hati. Oh, Gosh, mengapa aku harus terlibat di dalam hal seperti ini? Kenanga dan melati ini? Semoga ini untuk obat-obatan herbal, bukan sesaji! Tak ingin daku musyrik, ya Rabbi. :(

Beberapa tetangga Mba Fatma, terlihat memasuki halaman dan berseru riang pada Icha. 
"Icha, ayo donk bantu obatin nenek." Kata salah satunya, seorang ibu tua yang berjalan bungkuk dan terbatuk-batuk.
Icha malah menjawab dengan enggan.

"Icha lagi males. Icha mau main sama Bunda. Ga mau obatin, Icha capek." Dan si bocah jin ini pun berlari kecil mengitari pohon kenanga. Melompat-lompat persis bocah cilik! Aih.

Kubujuk Icha untuk masuk ke ruang tamu, yang sudah dinanti oleh beberapa tetangga Mba Fatma. Seperti inikah selalu jika Icha atau Dijah main kemari? Adakah mereka mendapatkan bayaran untuk bantuan yang mereka [Dijah dan Icha] berikan? Sebagai tamu, apalagi yang tidak tau apa-apa tentang kebiasaan yang berlaku disini, aku hanya duduk manis, dan membiarkan Icha di'tanya-tanya' oleh para tetangga Mba Fatma. Mba Fatma sendiri malah asyik memasak di dapur.

Kuperhatikan, Icha yang duduk di sebelahku, sekali dua kali masih mau menjawab pertanyaan para tetangga itu. Jika bertanya tentang penyakit mereka, kulihat Icha masih mau menjawab dengan baik. Ajaib, cukup dengan memejamkan matanya, bocah jin ini bisa melihat 'penyakit' yang diderita oleh sang penanya. Entah benar entah tidak, kulihat sang penanya manggut-manggut, percaya, dan nggih...nggih. Alamak! Atau mereka sudah putus harapan pada pengobatan medis, sehingga akhirnya beralih dan percaya pada pengobatan magis? Entahlah. Aku hanya bersikap santun selaku penonton dan pendatang baru di dalam kancah yang satu ini.

Namun, sikap tenangku, mulai terusik karena menurutku mereka juga sudah keterlaluan dalam 'menggunakan' Icha. Bocah jin ini, ditanyain terus menerus tentang segala hal, mulai dari penyakit tubuh, nasib hingga urusan jodoh. Suatu hal yang menurutku belum layak dijawab oleh seorang bocah berumur 4 tahunan. Ya iyalah, masak menanyakan si A benar ga suka dengan saya, baik ga orangnya, pelit tidak, itu pun ditanya pada Icha. Membuat bocah itu bosan dan mulai uring-uringan. Mulailah Icha ngelendotan padaku, meminta perlindungan. Aku pun jadi serba salah, apalagi saat Icha mulai menangis, mau tak mau, aku pun turun tangan. Urun suara yang sedari tadi aku simpan dengan seksama.

"Maaf ibu-ibu, Mba-mba, Mas-mas, tolong cukupkan dulu pertanyaannya pada Icha yaaa, kasian tuh anaknya udah mulai nangis. Besok-besok kalo Icha datang baru boleh nanya-nanya lagi, begitu kan, Nak?" Ujarku, seraya membalas pelukan Icha, yang persis anak kecil memelukku erat.

"Icha gak mau lagi nelawang, Icha mau main aja sama Bunda, Icha capek, Nda! Sana, Uwak dan semuanya pulang aja, Icha mau istilahat." Ucapnya dengan nada cadel.

Bukannya mengerti dengan permintaan Icha, beberapa anak gadis malah masih berusaha bertanya tentang pacar mereka ke Icha. Membuat bocah jin ini semakin sebal, dan mulai serius menangis.

"Icha capek, kakak! Icha mau pergi. Bunda... Icha mau main ya." Dan langsung deh tubuh Dijah dibawanya berlari kecil menuju sebuah kamar [yang ternyata adalah kamar yang biasa dipakai Dijah untuk beristirahat siang, jika sedang main kesini].

Beberapa anak-anak, malah mengikuti ke kamar itu. Aku, selaku sang tamu, tentu tak berani ikutan ke kamar itu donk. Jadi masih tetap duduk manis di sofa, yang sudah mulai ditinggalkan oleh para pengunjung tadi. Hanya tersisa empat tetangga Mba Fatma, yang masih duduk di dekatku, dan kami mengobrol santai. Namun kemudian, suara Dijah terdengar panik dari dalam kamar. Membuat kami langsung menyusul ke kamar itu. Dan, olala! Aku lihat Dijah berusaha bangkit dari posisi telentangnya, seraya mencoba menekuk kedua lututnya yang terlihat kaku.

"Kak, tolong aku, kakiku bisa putus kalo terus kaku begini. Si Icha main lari aja ninggalin tubuhku. Aku belum lagi sampai kesini ketika dia pergi tadi. Tubuhku ga boleh kosong, tapi dia sembarangan aja keluar tadi. Jadinya kekosongan beberapa menit tadi, membuat kakiku kaku, dan jika semakin ke atas, bisa putus ini nanti. Mana ga ada yang bantu bangunkan aku lagi tadi. Hiks...." Panik suara Dijah.

"Mba Fatma pun, udah tau bahwa aku harus dibangunkan saat peralihan, bukannya bantu bangunin. Jadinya seperti ini nih. Kak, tolong, bantu tekuk, Kak. Tolong...!"

Datuk Harimau

Kepanikan Dijah, otomoatis membuat kami semakin was-was. Walo sudah seminggu bersama Dijah, tapi aku belum pernah alami fenomena seperti ini. Terlihat kedua kaki Dijah begitu kaku, semakin keras dan sulit untuk digerakkan. Aku dan Mba Fatma berusaha membantu menekuk lutut Dijah, perlahan tapi bertenaga, namun tetap saja sulit untuk ditekuk. Akhirnya Dijah malah menangis sesunggukan saking takut akan kelumpuhan. Aku jadi serba salah. Hadeuh, harus apa aku ini?

Pinjem dari sini
Namun, suara sesunggukan itu, sekonyong-konyong malah berubah menjadi auman. Astaga, benar, auman harimau! Gile bener! Dan, tubuh Dijah yang tadinya terduduk dan berusaha menekuk kedua kakinya, kini malah dengan gampangnya berubah posisi. Kini, bertumpukan pada kedua lutut dan telapak tangannya, tubuh itu berada pada posisi merangkak. Persis harimau. Oh My God! Apalagi ini??? Siluman harimau? Ada yang pernah mendengar kisah atau malah berkenalan/berinteraksi langsung dengan siluman harimau? Oh Tidak! Hari gini percaya dengan siluman? 

Memang sih, aku pernah membaca sebuah novel jaman dulu, yang berkisah tentang manusia harimau dari Sumatera Barat. Tapi, aku hanya menganggap itu sebagai sebuah imaginasi dari sang penulis, yang keren abis! Sanggup membawaku ke alam lain, dan serasa bertemu langsung dengan sang siluman. Namun, selesai menamatkan bacaan itu, maka ketakutan, rasa penasaran, dan excitement pun hilang perlahan. Kehidupan berjalan kembali seperti biasa. Tanpa rasa takut, karena kuyakin, semua itu, tetap tertinggal di lembaran-lembaran halaman pada novel tersebut. 

Namun auman tadi? Persis auman seekor harimau! Dan prilaku tubuh Dijah kini persis seperti seekor harimau. Ya Tuhan! Tak sekedar mengaum, tapi kini, suara [serak] itu berteriak marah.

"Apa yang kalian lakukan pada cucuku! Kenapa membuat Icha marah? Kan sudah sering diingatkan si Dijah, jangan memaksa Icha untuk mengobati jika dia mulai bosan. Akibatnya lihat? Hampir saja Dijah lumpuh!"

Ujung kalimat panjang sang datuk, diakhiri dengan auman panjang, yang langsung membuat anak-anak dan orang-orang yang berkerumun di kamar itu, langsung ambil langkah seribu. Aku terpana, tertinggal persis di belakang sang datuk Harimau. Kini di kamar itu, hanya tersisa aku dan Siti, yang posisinya tepat di belakang sang siluman harimau. Untungnya, datuk tak sempat menoleh ke belakang, melainkan bergerak lincah [melalui tubuh Dijah] meninggalkan kamar, seakan mengejar anak-anak dan orang-orang yang telah berlari itu.

Ampun, sungguh, kali ini aku merasa jantungku benar-benar akan copot. Kutahan napasku agar sang datuk tak sempat lagi menoleh ke arah kami. Ih, gimana kalo aku sempat diterkamnya? Hadeuh, bisa tewas nih! Dag dig dug jantungku jangan ditanya, Mantemans! Sungguh aku ketakutan. Kugenggam tangan Siti yang terlihat ketakutan juga, dan mengajaknya perlahan berjingkat keluar kamar, dan begitu berhasil mencapai teras, aku pun langsung ambil langkah seribu, menjauh dari tekape. Haduuuh!  

Di jalanan, aku bertemu dengan Mba Fatma dan anak-anak serta orang-orang yang sempat berkerumun di kamar tadi. Sedang heboh membahas kehadiran sang siluman harimau yang mengamuk. Aduh, sungguh, aku justru kasian dengan Dijah. Dimana wanita itu kini? Mudah-mudahan dia sehat-sehat saja. Lama kami bertahan di warung itu, sampai kemudian aku dan Mba Fatma berinisiatif untuk balik ke rumah, mengintip di mana kini sang siluman. Aih, ternyata sedang membongkar kulkas Mba Fatma, dan mengobrak abrik sayur mayur yang ada di sana. Kembali, aku dan Mba Fatma menjauh, takut.

Kami bertahan di warung tadi, hingga sekitar 20 menitan kemudian, Dijah muncul mengajak kami pulang. Tapi, tunggu dulu! Logat bicara wanita ini bukan Dijah! Ini pasti roh lainnya. Dan benar saja, ternyata Kak Mona, ibundanya Icha yang kini mengisi tubuh Dijah. Beliau memerintahkan kami pulang yang segera kami sambut dengan patuh. Dan ibarat rentetan tembakan, Kak Mona memberondong kami dengan amarah dan kekecewaan. Menyesali sikap kami yang malah lari ketakutan saat sang datuk muncul tadi. Kulihat Kak Mona tak berkutik, terutama saat disalahkan Kak Mona. Lalu aku?

Bukan aku donk namanya kalo tidak membela diri. Dan pembelaan diriku, menurutku cukup masuk akal. Aq adalah orang baru di kancah ini, belum paham liku-liku kehidupan Dijah, dan siapa saja yang sering menyambanginya. Jadi wajar donk jika kemudian aku ketakutan, dan ikutan mengambil langkah seribu menyusul yang lainnya? Kak Mona sendiri memang maklum, dan sama sekali tak menyalahkanku. Yang dia sesali adalah sikap Mba Fatma, kok iyo malah lari gitu lho!

Entahlah, menurutku sih, tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Karena jika berhadapan dengan situasi genting seperti tadi, manusia mana pun, pasti akan ambil langkah seribu. Mana berani kita menurutkan saran Kak Mona untuk bertahan dan malah mendekati sang datuk, mengelus-ngelus kepala datuk seperti kita mengelus kepala seekor kucing? Ih, kayaknya eikeh ga sanggup deh, atuuut! 

Hari semakin sore, amarah Kak Mona telah mereda namun Dijah tak juga kembali. Akhirnya, aku dibonceng oleh seorang jin cantik [kabarnya Kak Mona ini cantik banget], menggunakan sepeda motor, pulang ke rumahnya Dijah. Tentu dengan pasukan lengkap seperti saat pergi tadi, yaitu ada tubuh Dijah yang kini diisi oleh Kak Mona, ada aku dan ada Siti. Datuk Harimau sendiri, sudah beranjak pergi sejak kak Mona berhasil menenangkan kemarahannya tadi. Alhamdulillah. 

Hingga malam harinya, Dijah tetap tak kembali, karena kedua kakinya masih terasa kaku dan perlu waktu untuk diobati oleh sang datuk [harimau]. Sementara untuk pengobatanku malam itu, tetap berjalan lancar, oleh Nenek Halimah yang setia merasuki Dijah, demi lancarnya perobatanku. :)

Nah, Mantemans, begitu deh kisah perkenalan awalku dengan sang datuk. Kesan pertama yang menyeramkan, ternyata hanya tahap permulaan, karena pada pertemuan kedua dan seterusnya, aku justru menjadi cucu kesayangan sang datuk. Tapi, tentu aku keberatan banget donk jika dititiskan ilmu ini dan itu. Hehe. Bukannya sombong, Mantemans, mengurusnya itu lho, yang bikin kuatir dan yakin banget, bahwa diriku tak akan mampu dan telaten melakoninya. Jadi, terima kasih aja deh, Tuk, saya lebih tertarik menjadi cucu datuk saja, tanpa harus menerima ilmu ini dan itu. :)

Yuk, cerita pengalamanmu juga yuk pada kolom komentar!

Perkenalan dengan datuk harimau,
Al, Bandung, 6 Agustus 2014

6 comments:

  1. kalau saya terakhir kali bertemu dengan 'datuk' Harimau, sekitar setahun lalu di BonBin Ragunan :D

    ReplyDelete
  2. Dulu katanya yg bisa lihat sih mak, rumahku dijaga harimau juga pintunya. Terus adekku juga pernah mau dikasi ilmu gitu bisa lihat penampakan aneh aneh, tapi aku bilang paling enak jadi orang normal aja. Nurut juga itu anak wekekek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, enaknya jadi orang normal aja, Mak. Tapi aku, kalo untuk bisa melihat mereka sih pengen, tapi untuk dikasih ilmu ini itu, ogah ah!

      Delete
  3. Aku mau komen apa ya.. wong aku terkesima...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, aku juga terkadang masih suka terkesima, Mak, serasa ga sampai akal pikiranku kalo bukan karena menyaksikan secara langsung. Suka sulit diterima logika sih. :)

      Delete